Google+

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Membuat Siwa Lingga sebenarnya merupakan penerapan sekte Pasupata, yang kemudian melebur menjadi satu dalam konsep Siwa Sidhanta atau Saiva siddhanta. Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Siwa Sidhanta. 
peninggalan Lingga Yoni
Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep yang dimaksud adalah Bhuwana kosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati tattwa, bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Dari sekian banyak  susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Pawang Hujang - Balian Nerang di Bali

Pawang Hujang - Balian Nerang di Bali

bila krama bali memiliki hajatan, baik dalam bentuk kegiatan sosial maupun yadnya, satu hal yang paling unik dan sering dilakukan adalah ritual "Nerang Hujan" dengan maksud agar hujan tidak turun selama kegiatan berlangsung. melihat fenomena tersebut, ada beberapa orang pintar dibali, baik yang menamakan dirinya "balian Nerang", pawang hujan dan lain sebagainya, mulai melirik bisnis niskala nerang hujan tersebut. banyak diantara mereka yang memasang iklan "Nerang Ujan, Pawang Hujan Bali, Terang Hujan di Seluruh Bali" atau iklan-iklan lainnya yang menawarkan jasa keahlian mereka dalam mengkondisikan alam agar tidak turun hujan selama acara kegiatan yang disepakati.
Kebanyakan orang mendengar istilah ‘pawang hujan’. Pawang hujan nama lain dari nerang. Bahasa Inggrisnya adalah ‘rain stopper’. Nerang berarti menerangkan langit dengan memohon pada Tuhan lewat para manifestasiNya.

Banten Nyambutan

Banten Nyambutan

berikut ini dipaparkan banten nyambutan, yang digunakan pada upacara Manusa Yadnya Tiga Bulanan dan Otonan Bayi.
adapun rincian upakara banten nyambutan tersebut:

BANTEN PENYAMBUTAN

ngiyu, medaging; beras, kelapa, taluh bebek lan tiosan;
  • Daksiana 1, 
  • tumpeng 5 genahang sabilang bucu lan tengah, 
  • jaja wohwohan, 
  • iwak ayam mepanggang, 
  • canang buratwangi, 
  • sampian nagasari, 
  • peras, 
  • sesayut pageh urip, 
  • panyeneng, 
  • pasucian pada asiki.

Sekte Siwa Sidhanta pemuja Siwa

Sekte Siwa Sidhanta

Agama Hindu di India maupun agama Hindu di lain tempat misalnya di Jawa maupun di Bali tidak mempunyai perbedaan dalam inti keagamaannya yang berbeda hanyalah pada kulit luarnya saja yaitu tentang pelaksanaan upacaranya,sedangkan isinya dan intinya tetap sama. Ajaran Wedanya tetap abadi,intinya tidak berubah hanya bagian luarnya yang bervariasi, menyesuaikan dengan budaya setempat di mana agama itu berkembang. Ajaran ini berkembang di India Selatan dan  Indonesia terutama pada abab VII. Ajaran Siwa Sidhanta ini menekankan pada pemujaan Lingga dengan tokoh Tri Murti (Brahma,Wisnu dan Siwa) dan Tri Purusa (Prama Siwa,Sada Siwa dan Siwa).

Ajaran Siwa Sidhanta tentang konsepsi Tri Purusa atau Lingga ini diwujudkan juga dengan bangunan Padmasana di Bali. Perlu diketahui bahwa pengertian Tri Purusa dengan Tri Murti adalah berbeda. Karena Tri Purusa adalah lukisan Tuhan dalam arti posisi vertical (atas ke bawah) dimana Tuhan dilambangkan sebagai penguasa alam atas,alam tengah dan alam bawah (Prama Siwa, Sada Siwa dan Siwa). Sedangkan Tri Murti adalah lukisan Tuhan dalam posisi horizontal (mendatar) atau sebagai penguasa arah, yaitu arah laut ialah Brahma, arah gunung ialah Wisnu dan di tengah-tengah ialah Siwa.

Sekte Waisnawa pemuja Wisnu

Sekte Waisnawa pemuja Wisnu

Mengenai wisnuisme di jawa-kuna ternyata pada kita juga tidak ada perbedaan (diferensiasi) tertentu antara dua kelompok yang utama ialah; bhagawata dan pancaratra. Wisnuisme tetap dalam keadaan sama seperti di zaman epik atau beberapa waktu setelah zaman itu (purana-purana yang lebih tua). Unsur-unsur tantris jelas dapat dipersaksikan. Awatara-awatara (tulis-tulisan) belum sampai jumlah sepuluh seperti kemudian hanya enam sebagaimana pada zaman epik diketahui; celeng (waraha), si laki-singa (narasingha), si cebol (wamana), selanjutnya Rama dan Krsna

Di Bali sekarang tidak terdapat lagi wisnuisme yang diakui secara resmi, akan tetapi dapat ditemukan bekas-bekas dalam dua aliran (sepeti pada pasupata) yaitu disini lagi unsur-unsur yang diambil alih ke dalam agama umum dan disamping itu tokoh sengguhu.
Unsur-unsur yang dimaksudkan ke dalam agama umum adalah;  
popularitas besar yang diperoleh Sri (sakti Wisnu).
Dari dewi rejeki dan dewi kebahagiaan.
Ia menjadi Dewi-Padi, Dewi dari makanan utama orang-orang Jawa dan Bali, dalam seluruh kekayaan dongeng-dongeng tentang Dewi Sri terdapat campuran dari unsur-unsur pribumi kuno dengan Hindu.
Akan tetapi masih ada suatu unsur lagi yang dimasukkan di sini, yaitu wisnu menjadi dewa dari perairan di alam bawah. Jadi dengan demikian mempunyai sifat sebagai demonis-chotnis) termasuk benar-benar makhluk alam bawah dan chthonis.

Sekte Aghori makan mayat

Sekte Aghori makan mayat

Aghoris percaya bahwa Shiva diinduksi terbaik dan terburuk di dunia dan tidak ada yang profan, semuanya sakral bagi mereka. Oleh karena itu, apa sekte Hindu lainnya menganggap tidak dapat diterima atau tabu, yang Aghoris menerimanya – yang 'kekuatan gelap' atau 'kotoran' - membawa mereka ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. dibali sekte Aghori hampir mirip dengan Sekte Bhairawa hitam, yang didentikan dengan Panca MA-nya. Mari kita melihat sekilas kehidupan di India mengenai Sekte Aghori.
Sekte Aghori Memakan Mayat Dan Menjadikan Tulang Manusia Sebagai Hiasan
kehidupan Sekte Aghori di India
Sepanjang sejarah kehidupan manusia telah ada segudang praktek kultus dan sekte agama yang aneh, membuat teror, unik bahkan menjijikkan. Mereka melakukan ritual aneh, ritual yang mengganggu, atau keyakinan ekstrim, sebagian kelompok ini telah lama melakukan sesuatu yang misterius dan mengancam keselamatan orang di luar kelompoknya. Sebuah kelompok misterius yang yang mempunyai kebiasaan yang menakutkan, menebarkan kebencian, dan horor, adalah suku mistik aneh dan kanibal yang ada di India dan dikenal sebagai sekte Aghori, atau Sadhu Aghori.
Mereka mendandani diri dengan kain kafan dari mayat atau baju yang ditinggalkan oleh keluarga orang mati, mengolesi diri dengan abu mayat sebagai pelindung dari penyakit, merenungkan mayat dan mengkonsumsi segala sesuatu dari manusia atau hewan daging untuk ekskreta, urine, alkohol – semua bagian dari ritual Aghora, yang secara harfiah berarti non-menakutkan, dan Aghoris adalah praktisi.
Para Sadhu Aghori adalah bagian dari sekte pertapa Hindu, khususnya mereka yang beraliran Shaivites,dimana mereka mengabdikan diri untuk Dewa Siwa, Dewa kematian dan kehancuran yang sering digambarkan sebagai Dewa yang paling menakutkan, di dunia barat disebut sebagai "The Destroyer" dan "The Transformer"

Hindu Indonesia

Hindu Indonesia

Agama Hindu bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa / Hyang Widhi yang  turun di India sekitar 2500 tahun BC. Wahyu-wahyu itu merupakan pengetahuan suci yang diterima  oleh orang-orang suci atau Rsi-Rsi dalam keadaan semadhi, kemudian dihimpun oleh  beberapa Maharsi antara lain Maharsi Wyasa yang mengumpulkannya menjadi Catur Weda berasal dari akar kata wid yang artinya tahu. Dari akar kata wid ini menjadi kata Weda  yang berarti pengetahuan suci. Juga dari akar kata wid menjadi kata Widhi artinya yang  memberi/sumber pengetahuan suci itu. Dari akar kata wid ini juga, menjadi kata widya yang  artinya kesadaran atau ilmu pengetahuan dan kebalikan dari widya adalah awidya yang artinya ketidaksadaran/kegelapan (ignorance).

Dengan turunnya Weda di India, maka timbullah suatu periode sejarah yang disebut zaman Weda. Pada zaman ini berkembanglah suatu corak kebudayaan baru di India yang mengambil sumber pada Weda dan meliputi beberapa aspek kehidupan yang disebut dengan  suatu istilah Hinduisme sebagaimana disebutkan di dalam Arya Warta.

Penerapan Siwa Siddhanta di Bali

Penerapan Siwa Siddhanta di Bali

Ajaran Agama Hindu yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang - kadang juga disebut Sridanta.
Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali.

Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur - unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam "Sejarah Sekte di Bali", berikutnya akan dicoba untuk memberikan informasi yang lebih mendalam tentang sekte saiwa.

kenyataan dibali, sekte saiwa memang tidak ada, yang tersisa hanyalah sekte siwa sidhanta, sedangkan cabang sekte pemuja dewa siwa lainnya, telah melebur kesemuanya dalam sekte siwa sidhanta tersebut. 

Penganut Hindu dari sekte Siwa meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.

Hindu Bali

Hindu Bali

Hindu Bali disebut pula Agama Hindu Dharma atau Gama Tirtha (agama Air Suci) adalah suatu praktik agama Hindu yang umumnya diamalkan oleh mayoritas suku Bali di Indonesia.

Hindu Bali merupakan sinkretisme atau penggabungan sekte - kepercayaan Hindu atau dimasa sekarang lebih dikenal dengan sebutan Sampradaya, baik aliran Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha dengan kepercayaan asli (local genius) suku Bali.

Agama Veda dharma

Agama Veda dharma

Veda atau dalam istilah Bali disebut dengan WEDA, merupakan Wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widhi (Tuhan) melalui para Rsi, dikumpulkan atau dihimpun menjadi suatu kitab suci. 
Kata Weda dapat dikaji melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan etimologi  (akar katanya) dan berdasarkan semantic (pengertiannya).
  • Secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, dari akar kata "Wid" yang berarti mengetahui atau pengetahuan. Dari kata Weda yang ditulis dengan huruf A (panjang) berarti pengetahuan kebenaran sejati atau kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu yang dijadikan sumber ajaran Agama Hindu. 
  • Secara semantic Weda berarti kitab suci yang mengandung kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci bagi umat Hindu. Maharsi Sanaya mengatakan bahwa Weda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung ajaran yang luhur untuk kesempurnaan umat manusia serta menghindarkannya dari perbuatan jahat.
Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Para Maha Rsi melalui pawisik (wahyu), sehingga weda disebut Sruti yang berarti Sabda Suci atau pawisik yang didengarkan sehingga weda itu sebagian besar adalah nyanyian-nyanyian dari Hyang Widhi yang berbentuk puisi, dalam Weda disebut Chandra. Orang yang menghayati dan mengamalkan Weda akan mendapatkan kerahayuan atau ketenangan lahir batin.  

Cakra Jantung atau Anahata Chakra

Cakra Jantung atau Anahata Chakra

Chakra Jantung sebagai chakra keempat dikenal sebagai pusat tubuh intuisi, dimana chakra jantung ini adalah pusat dari cinta kasih, kasih sayang seluruh perasaan yang positif dan halus. 

Pusat cinta; rasa kasihan; energi jiwa yang lebih tinggi; rasa cinta tanpa syarat; cinta yang menyembuhkan; energi yang bersatu dengan sentuhan; cinta diri; impersonal namun dalam dan berarti; berhubungan dengan komunitas. 

Manipura Chakra atau Cakra Pusar (Nabi)

Manipura Chakra atau Cakra Pusar (Nabi)

Cakra utama ketiga dinamai Cakra pusar (Nabhi Cakra/Maniphura Cakra), Chakra Pusat atau dikenal dengan istilah Cakra Solar Pleksus (Cakra Kehidupan) terletak di sekitar daerah pusar diasosiasikan dengan “tubuh mental”, yang mengontrol seluruh pikiran pendapat dan penilaian. Cakra ini mempengaruhi kesehatan organ-organ sekresi yang diwakili oleh kelenjar adrenalin. Cakra ini memberikan kekuatan cita-cita dan keinginan.
Cakra ini memberikan pula kepekaan intuitif terhadap kehadiran makhluk makhluk eterik (makhluk gaib, tempat angker dll. Tenaga prana yang dihasilkan oleh Cakra Pusat ini antara lain adalah prana udara, prana bumi, prana merah dan beberapa jenis prana yang lain.

Dewa Rudra dan Maha Mrityunjaya Mantra

Maha Mrityunjaya Mantra 

Dua mantra besar Veda adalah Gayatri Mantra dan Mrityunjaya Mantra.
siapa yang belum mengenal Maha Mrityunjaya Mantra, berikut ini?
ॐ त्र्यम्बकं यजामहे सुगन्धिं पुष्टिवर्धनम् ।उर्वारुकमिव बन्धनान् मृत्योर्मुक्षीय मामृतात्
Om Tryambakam Yajaamahe Sugandhim Pushti Vardhanam,
Urvaarukamiva Bandhanaath Mrutyor Mukshiya Ma-Amritat
Ini berarti bahwa....
"Marilah kita menyembah Dia satu yang bermata tiga, yang suci (wangi) dan yang memelihara semua makhluk. Sama seperti mentimun matang secara otomatis dibebaskan dari keterikatannya dengan menjalar, mungkin kita akan dibebaskan dari kematian (tubuh kami yang fana dan kepribadian) dan diberikan (mewujudkan) alam keabadian kita. "
Mantra diatas adalah mantra yang di dedikasikan untuk Dewa Rudra.

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Berjapa atau meditasi dengan tujuan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tentu ada aturan atau urutan, agar proses berjapa itu akan lebih terhayati (himat) dan penuh konsentrasi.
mohon diingat, meditas apa itu meditasi, agar menjadi lebih mermanfaat.
meditasi intinya hening dalam ketenangan, salah satu cara termudah untuk memulai meditasi adalah dengan mengatur nafas anda (pranayama). dengan pengaturan nafas, anda akan mencapai ketenangan dan dapat dengan nyaman memasuki alam meditasi.
duduklah dengan santai, tegakkan punggung anda.
aturlah nafas anda se-relaks mungkin, senyaman mungkin dan senyaman mungkin, bernafaslah dengan santai, gunakan nafas panjang tetapi jaga kenyamanan anda dalam bernafas. 
setelah posisi tersebut dapat anda capai, barulah memulai prosesi japa berikut ini.
apabila anda mengalami kesulitan, silahkan baca Belajar Tenaga Dalam Asli Bali, karena dalam tehnik tersebut dijelaskan tatacara meditasi yang paling dasar, yang akan dapat membantu anda dalam menjalankan Japa dan Meditasi Siwaisme ini.
Berikut cara atau urutan meditasi/berjapa menurut Siwaisme yang merupakan praktek meditasi yang dikembangkan dari sekte Siwa Sidhanta;

Ngaten Pade Gelahang

Ngaten Pade Gelahang

Pengertian wiwaha atau nganten artinya perkawinan suatu gejala sosial masyarakat yang memasuki Grahasta Asrama dalam Catur Asrama. Perkawinan menurut Hindu adalah perintah agama yang dianggap suatu jalan untuk melepaskan derita leluhurnya/ orang tuanya yang telah meninggal.
Ada beberapa istilah yang dipergunakan untuk menyebut bentuk perkawinan Pada Gelahang seperti, perkawinan negen dua, mapanak bareng, negen dadua mepanak bareng, nadua umah, makaro lemah, magelar warang, ada juga yang menyebutkan lumayan panjang seperti : perkawinan nyentana (nyeburin) dengan perjanjian tanpa upacara mepamit. Apapun istilah yang diperlukan pada dasarnya mengandung makna yang sama. 

Sekilas Tentang Dharma Caruban

Sekilas Tentang Dharma Caruban

Dharma Caruban Tuntunan Mancagera Dalam Hidangan Adat Hindu Di Bali
Lontar Dharma Caruban merupakan suatu uraian singkat tentang penyelenggaraan hidangan-hidangan masyarakat Bali, baik yang dipergunakan pada waktu pesta, maupun dalam perayaan keagamaan yang berdasarkan adat Agama Hindu. Dharma Caruban merupakan naskah dalam tradisi Bali yang membahas keanekaragaman resep makanan tradisional dengan menggunakan racikan bumbu tradisional.

Secara etimologis kata Dharma Caruban berasal dari dua kata yakni kata Dharma (tata cara) dan Carub (mencampur) sehingga dapat diartikan sebagai tata cara yang dilakukan dalam mencampur racikan bumbu-bumbu masakan sesuai dengan uraian resep. Bisa dikatakan peraturan tata cara racikan yang dibuat oleh Dewa dituangkan dalam Lontar Dharma Caruban yang harus dikuasai seluk-beluk penyajian makanannya karena terkait dengan persembahan kepada para dewa.

Sejarah Pura Samuantiga

Sejarah Pura Samuantiga

Sejarah pendirian Pura Samuantiga yang bersumber dari data tertulis seperti halnya prasasti, prakempa, purana atau pun babad sampai saat ini belum banyak diketemukan. Minimnya sumber tertulis yang khususnya menguraikan tentang keberadaan Pura Samuantiga mungkin disebabkan berbagai faktor antara lain: panjangnya perjalanan waktu yang telah dilewati sehingga sangat memungkinkan adanya data- data yang hilang. Di samping itu tradisi penulisan segala sesuatu berkaitan dengan keberadaan suatu peristiwa atau pura belum membudaya di masa lalu. Maka tidaklah berlebihan bila dalam menelusuri kembali sejarah pura Samuantiga berbagai sumber data penunjangnya sekecil apapun serta walaupun bersifat fragmentaris masih relevan untuk dikaji.

Sebagai tonggak awal ada baiknya kita simak sejenak isi lontar Tatwa Siwa Purana, khususnya lembar 11 yang berkaitan dengan penyebutan pura Samuantiga antara lain disebutkan :
".......... Samalih sapamadeg idane prabu Candrasangka, mangwangun pura saluwire : Penataran Sasih, Samuantiga, hilen-hilen rikala aci, nampiyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran nglamuk beha, mapalengkungan siyat pajeng, pendet, hane bale pgat, pgat leteh".
Terjemahan bebasnya:
".......... Dan lagi semasa pemerintahan beliau Prabu Candrasangka, membangun pura antara lain : Penataran Sasih, Samuantiga, tari-tarian di saat upacara, nampiyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran menginjak bara, mapalengkungan perang payung (pajeng) pendet dan ada balai pegat penghapus ketidak sucian (leteh)".

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Prajanartha striyah srstah
Samtanartham ca manawah
Tasmat sadharano dharmah
ςrutau patnya sahaditah (Vedasmrti. IX.96)
artinya:
Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.
Sejak awal kehidupan manusia, ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikat dalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). 

Cara Sembahyang Gama Bali

Cara Sembahyang Gama Bali

Dalam setiap pemujaan hendaknya kita memahami tata cara yang ditetapkan, agar apa yang menjadi keinginan kita, dapat tercapai secara maksimal. Namun apa yang akan disampaikan dibawah ini sangat rahasia sekali sifatnya. Untuk itu kami sampaikan kepada semua pembaca agar berhati-hati menggunkan ajaran yang rahasia ini. Semasih kita ingin melakukan permohonan, keselamatan diri dan keluarga semuanya urut-urutannya adalah :
  • Sebutkan satu persatu
  • Mohon hadir ditempat kita melakukan pemujaan (masing-masing pelinggih)
  • Setelah kita anggap hadir semuanya, lalu kita suguhkan dengan diawali rasa bhakti sesuai dengan sesajian yang kita haturkan
  • Mohon apa yang kita inginkan
  • Sebutkan semuanya dan dipersilahkan kembali ke kahyangannya masing-masing.

Sloka Veda Tentang Etika dan Budaya Kerja

Sloka Veda Tentang Etika dan Budaya Kerja


Kurvan eveha karmânņi
Jijīviset satam samah
Evam tvayi nanyatheto-asti
Na karma lipyate nare. (Yajurveda XL.2)
artinya:
Orang hendaknya suka hidup di dunia ini dengan kerja keras selama seratus tahun. Tidak ada cara yang lain bagi keselamatan seseorang. Suatu tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memihak, menjauhkan pelaku dari keterikatan.

Icchanti devah sunvantam
Na svapnaya sprhayanti.
Yanti pramadam atandrah. (Atharvaveda XX.18.3)
artinya:
Para dewa menyukai orang – orang yang bekerja keras. Para Dewa tidak menyukai orang – orang yang gampang – gampangan dan bermalas – malas. Orang – orang yang selalu waspada mencapai kebahagiaan yang agung.

Sloka Veda berkaitan dengan Narkoba dan Prostitusi

Sloka Veda berkaitan dengan Narkoba dan Prostitusi


A. NARKOBA

Ragadi musuh maparo
Rihatya tonggwanya
Tan madoh ring awak ( Ramayana I. 4)
Artinya :
Nafsu, kemarahan, iri, dengki, angkuh dan kegelapan Adalah musuh terdekat dalam diri manusia dihatilah tempatnya tiada jauh dari diri.

Lahirnya Sampradaya

Lahirnya Sampradaya

Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci catur veda. Syair-Syair kitab suci Weda Sruti disebut Mantra. Sedangkan syair-syair kitab Sastra weda disebut Sloka. Kitab suci Catur Weda itu terdiri dari 20389 Mantra. Empat kitab suci weda itu dipelajari oleh 1180 Sakha atau kelompok spiritual. 
  • Rg Weda dengan jumlah Mantra sebanyak 10552 dipelajari oleh 21 Sakha. 
  • Sama Weda dengan jumlah Mantra 1.875 dipelajari oleh 1000 Sakha.
  • Yajur Weda dengan jumlah Mantra 1975 Mantra dipelajari oleh 109 Sakha ,dan 
  • Atharwa Weda dengan jumlah Mantra 5.967 dipelajari oleh 50 Sakha.

Sampradaya lahir dari Upanisad

Setiap Sakha dibahas atas bimbingan Resi yang benar-benar menghayati Weda baik teori maupun praktek. Resi itu disebut Sadaka karena telah mampu melakukan Sadana atau mewujudkan ajaran suci Weda dalam kehidupannya sehari-hari. Orang yang mampu melakukan Sadana itulah yang disebut Sadaka. Sakha itu ibarat sekolah. Sedangkan kitab suci Weda itu ibarat “kurikulum” yang harus diterapkan oleh sekolah tersebut. Meskipun kurikulum yang diterapkan oleh setiap sekolah itu sama, pasti setiap sekolah itu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan satu sekolah dengan sekolah yang lainnya. Demikian jugalah halnya dengan proses mendalami kitab suci Weda sumber ajaran Hindu. Disamping itu Weda adalah kitab suci yang sangat memberikan kemerdekaan pada setiap orang yang meyakininya menyerap ajaran Weda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing umat.
Dari system Sakha itulah melahirkan kitab-kitab Upanisad. 

benarkah sampradaya Gama Bali?

benarkah sampradaya Gama Bali?



Dancing With Siva Lexicon mendefinisikan sampradaya : "Doktrin tradisional tentang Pengetahuan."
Sebuah aliran yang hidup dari tradisi atau teologi dalam agama Hindu, diteruskan secara latihan lisan dan upanayana (inisiasi). Istilah ini berasal dari kata kerja samprada, yang artinya "memberi, menghadiahi, menyerahkan, menganugrahkan; menurunkan melalui tradisi, mewariskan." Sampradaya karena itu adalah satu filosopi yang diturunkan melalui sejarah dengan penyampaian bahasa lisan.

Istilah ini lebih inklusif (mencakup) dibandingkan dengan istilah sejenis yaitu parampara yang berarti satu garis keturunan yang hidup dari para guru yang telah disucikan yang mengejawantahkan dan meneruskan suatu sampradaya. Masing-masing sampradaya sering direpresentasikan oleh banyak parampara.

Lalu apa itu parampara?

Sarwa Sadaka di Bali

Sarwa Sadaka di Bali

Meskipun ada umat yang menganggap Dewa–Dewi merupakan Tuhan tersendiri, namun umat Hindu memandangnya sebagai cara pemujaan yang salah. Dalam kitab suci mereka, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: 
ye ‘py anya-devatā-bhaktā yajante śraddhayānvitāḥ, te ‘pi mām eva kaunteya yajanty avidhi-pūrvakam (Bhagawadgita, IX:23) 
Arti: 
Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya, sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)

Hyang Surya Raditya Dewa Matahari

Hyang Surya Raditya Dewa Matahari

Dalam ajaran agama Hindu, Dewa (Devanagari: देव) adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, malaikat, dan manifestasi dari Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam agama Hindu, musuh para Dewa adalah Asura. 

Kata “dewa” (deva) berasal dari kata “div” yang berarti “bersinar”. Dalam bahasa Latin “deus” berarti “dewa” dan “divus” berarti bersifat ketuhanan. Dalam bahasa Inggris istilah Dewa sama dengan “deity”, dalam bahasa Perancis “dieu” dan dalam bahasa Italia “dio”. Dalam bahasa Lithuania, kata yang sama dengan “deva” adalah “dievas”, bahasa Latvia: “dievs”, Prussia: “deiwas”.

Surya (Sanskerta: सूर्य; Surya) adalah nama dewa matahari menurut kepercayaan umat Hindu. Surya juga diadaptasi ke dalam dunia pewayangan sebagai dewa yang menguasai atau mengatur surya atau matahari, dan diberi gelar "Batara". Menurut kepercayaan Hindu, Surya mengendarai kereta yang ditarik oleh 7 kuda. Ia memeiliki kusir bernama Aruna, saudara Garuda, putra Dewi Winata.

Pantangan buat SUAMI bila Istri-nya hamil

Pantangan buat SUAMI bila Istri-nya hamil

Dalam masyarakat Hindu di Bali sampai saat ini masih sering kita lihat berbagai tradisi dipercaya dan dilaksanakan dengan patuh. Disisi lain ada juga orang yang tidak lagi menjalankan tradisi tersebut dengan berbagai alasan. Namun banyak orang yang "sekedar" melaksanakan saja tradisi-tradisi ini tanpa memahami secara mendalam maksud dan tujuan dari tradisi tersebut.

Sebagai contoh, ketika si istri sedang hamil, maka lelaki atau suaminya tidak akan memotong rambutnya dan dibiarkan panjang. tapi banyak krama bali yang kurang mengeri maksud dari tradisi Manusa Yadnya tersebut.

Caru Rsi Ghana - Lontar Bhama Kertih

Caru Rsi Ghana - Lontar Bhama Kertih

berikut ini banten caru rsighana:

Nihan Kaputusan Sang Hyang Resi Ghana, pamarisudhan ing karang hangker, salwir ing panes.

Yan mati salah pati, kalebon hamuk, sinamber ing glap, makrane sang adrewe humah kabhaya-bhaya kojarnia, caru iki glarakna ring pomahan ring sanggar ring parhyangan mwang ring tegal, sawah, sagenah ing karang panes aheng mwang hangker, yadyan kapanjingan Bhuta Kala Dengen, umah ing dete,
caru iki glarakna, lwirnia :

Caru Pamangguh Pamali - Lontar Bhama Kertih

Caru Pamangguh Pamali - Lontar Bhama Kertih


Iti pamangguhan pamali, 

lwirnia : Caru bulan ring tengah. cawu petik bilang samping (sisi), manca desa genahnia, halednia don byah, beten don byahe, klupakan tiying, madag­ing hole-hole, sami porosania don girang-girang, pamornia tahin blek, buahnia biluluk, plawania lateng ayam, iwaknia lindung, bluwang, katak, balang, capung, sami maguling.

Caru Jigramaya - Lontar Bhama Kertih

Caru Jigramaya - Lontar Bhama Kertih

berikut ini banten caru untuk karang panes, yang terkena pemali pulung akibat bhuta jigramaya

Nihan tingkah ing karang pahumahan, kna gering tutumpur sasab mrana, mwang kna pamali pulung, tan pegat kena gering kabhaya-bhaya, lara sang madrebe humah, reh matonya.

I Bhuta Jigramaya, rupania hamanca warna, ika ratuning kala dengen, mahanak pamali pulung raksa, mahanak I Pamali Mun­dar-mandir, kwehnia 11 diri, ika hangadakaken, kapanjingan hyang lalah, kasander ing glap, katiben amuk, kalebon amuk, katiban lulut, kasiratan rah, mati magantung, salwir ing cuntaka bhaya, ika mamirudha, nga, Ki Bhuta Jigra-mangsa.
Yan kurangan pracaru, tan pegat katibanan gering, krana wenang carunin, sagenah karang ika,

Banten Caru Nyapuh Carik - Lontar Bhama Kertih

Banten Caru Nyapuh Carik - Lontar Bhama Kertih

bagi orang bali, yang ingin membangun rumah tinggal dimana asal tanah tempat rumahnya adalah sawah, ladang atau tegalan, maka hendaknya dibuatkan caru pengerapuh carik yang gunanya untukm mengganti fungsi sawah pertanian menjadi perumahan. disamping itu dibuatkan juga caru panepas/penyapuh pundukan (sekat sajah/jalan) apabila tanah yang akan dibangun rumah ditengah-tengahnya atau wilayah rumah yang akan dibangun terdapat pundukan (jalan para petani).

berikut ini tatacaranya:

Ciri Karang Panes - Lontar Bhama Kertih

Ciri Karang Panes - Lontar Bhama Kertih

berikut ini ciri-ciri pekarangan perumahan yang bermasalah, sesuai dengan petunjuk Lontar Bhama Kertih;

Iki ling ira BHAGAWAN WISWAKARMA, pangalihan karang, anggen karang paumahan, mangde tan kabheda-bheda dening lara kageringan, helingakna pidhartania, 

lwirnia :
Yan wenten karang tegeh ring paschima, hayu, nga, manemu labha sang ngumahin.
Yan karang seng ring utara, hayu ika, sawetunining anaknia, putunia, tan kurang bhoga sang ngumahin.
Yan karang hasah natarnia, hala ayu kojarania, tan kurang pangan kinum, sang ngumahin.

Jenis Sate atau sesate untuk Yadnya

Jenis Sate atau sesate untuk Yadnya

sate, berdasarkan Lontar Dharma Caruban merupakan salah satu jenis olahan hewan yang bersifat kering (tuh). disamping sate jenis olahan tuh lainnya adalah urutan, gorengan, brengkes serta gubah (teboan).

dalam pelaksanakaan upacara Panca Yadnya dibali, sate atau sesate terdiri atas 13 jenis, yaitu:
  1. Sate Lembat,
  2. Sate Asem,
  3. Sate Kuung (kekuung),
  4. Sate Sepit gunting,
  5. Sate Jepit babi, 
  6. Sate Jepit Balung, 
  7. Sate Se rapah,
  8. Sate Letlet, 
  9. Sate Suduk ro
  10. Sate Empol
  11. Sate Pusut
  12. Sate Kablet
  13. Sate Kebek

Bahan-bahan pembuatan sate

berikut ini dijelaskan bahan-bahan pembuatan sate, proses pembuatannya dan simbol yang terkandung didalamnya.

Mantra Menyembelih Hewan dan kelengkapannya untuk Yadnya

Mantra Menyembelih Hewan Kurban untuk Yadnya

apabila kita akan mengadakan suatu upacara Panca Yadnya, yang menggunakan sesaji dengan sarana atau kelengkapan bahan olahan hewan, sesuai petunjuk Lontar Dharma Caruban, agar dilakukan upacara penyembelihan hewan-hewan tersebut. dan apabila ingin menjadi tukang olah (pancal) dan akan mengadakan upacara yadnya yang sarananya menggunakan olahan-olahan dari hewan, terlebih dahulu harus dikuasai hal-hal berikut ini:
  1. menyiapkan upakara-upacara penyembelihan hewan yang akan dipergunakan sesaji atau hidangan.
  2. puja mantra yang akan dipergunakan (dilantunkan) untuk penyembelihan jenis-jenis hewan tertentu.
mantra-mantra untuk panyembelihan hewan yang akan dipergunakan bahan olahan serta kelengkapan lainnya seperti berikut ini:

Perumahan atau pekarangan kemasukan Ular

Perumahan atau pekarangan kemasukan Ular

dimasyakarat khususnya di Bali sering ada kejadian, dinama rumah/paumahan kemasukan ular, kadang ular tersebut berada di tempat tidur, ular didalam almari/bupet, ular di kamar mandi, dan tempat lainnya di dalam rumah. 

kejadian seperti hal itu sering masyarakat hanya mengandalkan logika dengan cara menaburkan garam di sekitar bangunan (rumah), tetapi nyatanya kedatangan ular terjadi terus-menerus. sesungguhnya hal tersebut bisa dipantau dengan pikiran/logika sehat, bahwa seekor ular sesungguhnya bertempat disemak belukar atau di pohon-pohon, tapi kenyataannya berada di dalam rumah.

Lebah atau Tawon di Bangunan Bali

Lebah atau Tawon di Bangunan Bali

salah satu keunikan budaya bali adalah menyelami segala ciri alam untuk dipelajari demi kebaikan masyarakatnya, salahsatunya adalah mengamati adanya binatang lebah (tawon) yang kadangkala bersarang di bangunan bali, baik rumah, pelinggih maupun bangunan lainnya.

bagi orang bali, adanya sarang tawon dibangunan bali memiliki arti tanda-tanda khusus yang akan terjadi kedepannya. pertanda tersebut akan membawa kebaikan apabila dilakukan suatu upacara tertentu, dan akan berakibat buruk bila tidak diupacarai. hal itu merupakan tanda pekarangan tersebut sudah terkena pengaruh "durmangala prawesa"
  • durmangala, berasal dari kata "dur" yang artinya telah terkena, "mala" yang artinya keletuhan; cemer; kotor, dengan sisipan "ng". sehingga menjadi kata "durmengala" yang artinya terkena keletuhan.
  • prawesa, berasar dari kata "para" yang dapat diartikan segala bentuk, sedangkan wesabersal dari kata "wasibhuta" yang artinya siksaan.

Rahasia Yoga Kawisesan Bali

Rahasia Yoga Kawisesan Bali

iki gegelaran manusa sakti, jalma luwih, kawruhakena dening prayatna, rumegep Sang Hyang Wisesa, tingkahing pati, lawan urip, manusa sakti bernama I Jaratdrana, ika Wisnu Buwana ngaran. Yan teka ring patine, jalanang manusa saktine, yang bernama I Jaratdrana ane ada di sor, ne nongos di bongkol tulang jringe, irika pagenahing atmane, apange matunggung menek, adan atmane I Belis, ne been apine, ne beduwur yeh, yen suba yan matungga lan dadi abesik, ya madan Gni Rakasya, margane terus kematane, away simpang, apan marga utama ya, anggon ngeseng lara, sehananing lara wenang kageseng denya.
Yan terka ring pati, majalan makejang, apan tunggal pati lawan urip. Rupan manusa saktine putih, ne nongos di bongkol tulang jringe. Irika genah Sang Wenara Petak. Matane tengen mangaran Bhatara Guru, matane di tengah mangaran Simaralaya, matane di kiwa mangaran indraloka, pasyakan matane di tengah bernama Wisnu Buwana, gegelaran manusa sakti manderaguna manusia setengah Dewa.
Karena itu, di dalam hidup ini hendaknya dengan tekun dan sadar selalu membersihkan diri. Mengurangi keangkaraan hati. Dan bilamana datang dari kematiannya, maka berjalanlah dengan tenang, "margannya menek ke pabahane (ubun-ubun), budinta apang enak, yang sida semangkana, ya mangaran manusa sakti, ya mangaran manusia setengah Dewa sakti manderaguna. Yan kita sampun wruh semangkana, wenang kita mabrata, ngurangin pangan kinum, mwah aturu lan senggama. Away wera dahat, nadyan kita mati tan pabya, tan urung kita anungkap swarg luwih". Kalau memang sudah bisa begitu, bila nanti kita mati, walaupun tanpa di aben, tanpa dibuatkan upakara, kita akan tetap masuk sorga.

Ajaran Kanda Pat Sari

Ajaran Kanda Pat Sari

Kanda Pat di dalam ajaran Jawa dikenal dengan istilah “Sedulur papat kelima pancer”. Pancer adalah diri kita. Setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Ketika manusia masih berupa janin didalam perut ibunya, keempat saudara itu nyata. Kasat mata. 
Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kutipan Kidungan Jaya Wedha berikut ini: 
Ana kidung akadang premati among tuwuh ing kuwasanira nganaken saciptane kakang kawah puniku kang rumeksa ing awak mami anekaken sedya pan kuwasanipun adhi ari-ari ika kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah. Ponang getih ing rahina wengiangrowangi kang kuwasa andadekaken karsane puser kuwasanipun nguyu-uyu Sumbawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku jangkep kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang
Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sungguh-sungguh. Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu, yang menjaga badan saya. Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya. Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan kekuasaannya, yang menyampaikan tujuan. Sedangkan darah siang dan malam membantu Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Puser kekuasaannya, memerhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu. Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat. Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudnya.

Ajaran Kanda Pat Dewa

Ajaran Kanda Pat Dewa

Menurut beberapa orang sarjana, para Dewa menyatakan kekuatan-kekuatan alam.
Iswara menyatakan angin, Brahma menyatakan api, Mahadewa menyatakan tanah, dan Wisnu menyatakan air
Namun, walaupun di dalam agama Hindu, termasuk di dalam ajaran Kanda Pat Dewa ini. Dikenal banyak Dewa, bukanlah berarti tidak mengakui adanya asas Ketunggalan. Seperti yang sudah dijelaskan dimuka.
Hanya satu Tuhan Yang Maha Esa orang arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”.

Selain itu, di dalam doa-doa para Arya Weda kita menemukan kecenderungan untuk memuliakan Dewa-Dewa yang dipuja. Seperti, bila Dewa Wisnu atau Dewa Brahma yang dipuja, maka Dewa-Dewa tersebut memiliki segala atribut dari Yang Maha Tinggi, atau Tuhan Yang Maha Esa. Pandangan ini jelas menyangkal adanya kejamakan para Dewa. Akan tetapi, walaupun hanya ditekankan satu Ketuhanan, berulang-ulang sejenis trinitas (trimurti) diakui pada Brahma, Wisnu dan Siwa. Sementara Brahma adalah prinsip penciptaan, Wisnu adalah pemelihara dan Siwa pelebur. Diantara para Dewa Weda, Wisnu dan Siwa terus bertahan, dan agama Hindu tanpa Wisnu dan Siwa bukanlah Agama Hindu. Akhirnya, dengan serangkaian perkembangan Wisnu dan Siwa disamakan dengan Brahman dalam kitab-kitab Upanisad.

Ajaran Kanda Pat Bhuta

Ajaran Kanda Pat Bhuta

Kanda Pat Bhuta adalah ajaran pengiwa
Karena dia pengiwa, tentu saja bersifat wingit, tersembunyi, tenget, angker, misterius, aja wera dan rahasia. 
Itu pula yang menyebabkan sangat sulit mencari lontar atau buku yang mengulas tentang Kanda Pat Bhuta ini. Ajaran Kanda Pat Bhuta bisa populer justru karena ada banyak mitos yang bercerita tentang itu. Dan oleh para budayawan, mitos-mitos tersebut diwujudkan dalam bentuk pagelaran seni tari, seperti tari Barong Ket, tari Barong Landung, tari Calonarang dan sebagainya. Dari mitologi-mitologi itu. Kalau seorang budayawan bisa mewujudkan ajaran Kanda Pat Bhuta, menjadi sebuah drama tari atau seni tari.

Yang pertama dipakai acuan adalah babad Rangda. Babad Rangda ini ceritanya nyaris sama dengan naskah lontar Tanting mas dan Tanting rat, atau Calonarang versi Bali. 

Upacara Macolongan atau Bulan Pitung Dina (Bayi 42 Hari)

Upacara Macolongan atau Bulan Pitung Dina (Bayi 42 Hari)

Pada saat umur bayi satu bulan tujuh hari (42 hari) maka akan dibuatkan suatu upacara yang disebut “upacara macolongan”. Seperti telah diuraikan dalam artikel "Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi Manusia", bahwa bayi dalam pertumbuhannya di dalam kandungan, sangat dibantu oleh empat unsur berdasarkan fungsinya masing-masing. Keempat unsur itu kemudian disebut “Catur Sanak” berarti empat saudara, meliputi yeh nyom, getih, lamad/puser dan ari-ari. 
Dalam ajaran Kanda Empat Rare nama saudara empat ini, akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi, sehingga akan terdapat banyak nama untuk mereka. Disini, di dalam upacara mecolongan ini Sang Catur Sanak di panggil dengan sebutan “nyama bajang”.

Yang dimaksud “nyama bajang” adalah semua kekuatan-kekuatan yang membantu Sang Catur Sanak di dalam kandungan. Menurut penjelasan beberapa sulinggih “nyama bajang” ada sebanyak 108, dan salah satu diantaranya bernama “bajang colong”. 
Nama Bajang Colong inilah yang mungkin kemudian dijadikan nama upacara tersebut, sehingga disebut “upacara macolongan”.

Upacara Magedong-gedongan (Garbha Wedana)

Upacara Magedong-gedongan (Garbha Wedana)

dalam usaha memelihara keselamatan bayi selama ada dalam kandungan, perlu adanya perawatan secara niskala, yaitu lewat beberapa upacara yang dilakukan. 

Dan salah satu usaha ke arah itu, adalah upacara nyidam yang disebut upacara “Pangrujakan”. 
Maksud dan tujuan upacara ini adalah, supaya kandungan si ibu itu, supaya bayi (manik) yang sedang memproses dirinya di dalam kandungan, menjadi waras, sehat atau terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Didalam buku Manusa Yajna menyebutkan bahwa, supaya bayi yang ada dalam kandungan menjadi waras, kuat dan dirgayua (panjang umur), artinya tumbuh dengan normal, perlu ditolong dengan sarana sadrasa yang disebut rerujakan. Gunanya adalah memberikan alat perekat terhadap manik dalam rahim, yaitu pada saat si ibu hamil sedang nyidam.

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi Manusia

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi - Manusia

Ajaran Kanda Pat Rare berawal dari terbentuknya bayi dalam kandungan, seperti yang telah diceritakan dalam artikel "Kupasan Lontar Kanda Pat" lahirnya seorang anak berawal hubungan asmara orang tuanya. setelah itu pertemuan kama bang dan kama petak maka terbentuklah rare. berikut ini urutan perkembangannya.

Bayi dalam kandungan


Bayi dalam kandungan bisa terwujud karena pertemuan antara kama petak dan kama bang, atau pertemuan antara cukla yang keluar dari purusa (laki-laki) dan swanita yang keluar dari pradana (wanita).
  • Kama petak adalah air mani laki-laki yang juga disebut cukla, yang dengan Sang Hyang Semara
  • Kama bang adalah air mani perempuan yang disebut swanita , disimbolkan dengan Dewi Ratih
Kama petak dan kama bang juga disebut cukla swanita, yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih.Tumbuhnya bayi di dalam kandungan menurut agama Hindu adalah berkat bertemunya sang cukla swanita. Pertemuan itu baru dapat dibenarkan secara agama, apabila dilakukan oleh suami-istri yang sah.

Jalani Aktifitas Bali Sehari-hari, tingkatkan Spiritual Anda plus bonus Ilmu Kawisesan

Jalani Aktifitas Bali Sehari-hari, tingkatkan Spiritual Anda plus bonus Ilmu Kawisesan

itulah hebatnya bali,
hanya dengan menjalankan aktifitas sesuai dengan acara upacara budaya bali, tingkat spiritual anda akan menjadi lebih baik dan anda mendapatkan bonus ilmu kawisesan yang bisa dipergunakan untuk percepatan pencapain hidup anda yang jagadhita.
secara tidak langsung, para tetua krama bali jaman dahulu sudah mendesain agar turunanya menjadi lebih baik, dengan mempelajari ilmu spiritual yang disisipi ilmu kawisesan. bila menghayatinya, orang bali tidak akan merasakan bahwa dirinya sedang belajar spiritual kawisesan bali, dimana secara nyata dengan pandangan kasatmata yang dilakukan hanyalah ritual-ritual kecil yang sudah lumbrah dilaksanakan oleh setiap keluarga hindu bali.

contoh kecilnya; menjalankan bhuta yadnya dan manusa yadnya itu sebenarnya memperkuat ajaran kawisesan kanda pat, dengan menjalankan dewa yadnya dan bhuta yadnya secara tidak langsung kita telah mempelajari dasa aksara, genta pinarah pitu serta ilmu kawisesan lainnya yang disisipi oleh para tetua pencetus pembentukan budaya bali ini.

baiklah, mari kita perhatikan acara upacara budaya bali berikut ini;

Akibat Mengunakan Dewasa Ala

Akibat Mengunakan Dewasa Ala

semakin maju jaman, semakin berat permasalahan hidup ini, itulah ciri jaman kaliyuga. ada banyak ciri lainnya, salahsatunya adalah melanggar pantangan yang sudah dituliskan.

dibali, meyakini bahwa untuk memulai suatu kegiatan (karya ayu) hendaknya menggunakan hari baik tertentu atau yang lebih dikenal dengan istilah Dewasa Ayu. tetapi belakangan ini, terjadi ketimpangan dalam keyakinan masyarakat bali, dimana karya ayu dilakukan dengan menggunakan dewasa ala atau hari yang buruk. mungkin saja mereka lupa atau sengaja melanggar demi cepat terwujudnya keinginannya. 

berikut ini beberapa akibat melanggar pantangan memurut Lontar Sunari Tiga, pemakaian Dewasa Ala dalam menjalankan karya ayu:

Banten Bayuh saluwirin Dewasa ALA

Banten Bayuh saluwirin Dewasa ALA

banyaknya permintaan tentang Dewasa Perkawinan, membuat bangga kami selaku penulis, karena semeton bali sudah mulai eling dengan budaya bali yang adiluhung dan mulai sadar serta mengesampingkan pemilihan "hari upacara berdasarkan tanggal cantik".

tetapi, dengan banyaknya permintaan tersebut, masih ada juga semeton bali yang "terpaksa" memilih dewasa yang kurang direkomendasikan karena alasan yang cukup kuat. karenanya, untuk mengurangi dampak negatif dari dewasa ala tersebut, diperlukan sebuah ritual khusus, yang biasa disebut dengan "bayuh dewasa".

dengan dilaksanakannya bayuh dewasa, diharapkan agar pelaksana karya yadnya serta pemilik/penyelenggara upacara yadnya terhindar dari efek negatif dewasa yang dipilihnya, dalam melaksanakan kegiatan khususnya upacara yadnya. TETAPI.. hendaknya dipahami, Bayuh Dewasa ini sifatnya hanya menghindari, memperingan efek saja, bagaikan luka parah yang baru ditolong dengan obat-obatan P3K saja, sudah barang tentu efeknya hanya sebatas mengurangi rasa sakit (duka)nya saja. harapan untuk memperoleh yang lebih baik sudah tentu kurang bisa dinikmati karena menghilangkan efek tersebut tidaklah memungkinkan.

Kanda Pat Versi Perguruan Seruling Dewata

Kanda Pat Versi Perguruan Seruling Dewata

semakin meningkatnya pengetahuan spiritual, memberi dampak semakin berkembangnya pula Ilmu Kawisesan Kadigjayan di bali, Mulai dari Kyai Agung Pasek Gelgelnya dengan Ajian Kreket, hingga tokoh-tokoh lainnya yang memiliki ciri khas ilmu kapiandel lainnya seperti keputusan sang hyang rimrim, ajian pudak setegal, keputusan jaka tua dan sebagainya, dimana ilmu-ilmu kawisesan tersebut disebarkan melalui keturunannya maupun media murid serta pasukan (orang) kepercayaannya.
salah satu ajaran yang saat ini trend dibali adalah Ajaran Kanda Pat. setiap GURU yang memiliki tingkat pemahaman ajaran ditambah Penugran Bhatari, membuat ajian ini semakin berkembang menjadi lebih banyak cabangnya. tidak yang tinggi maupun yang rendah dalam ajian kanda pat ini, karena ajaran itu sama, yang membedakannya hanyalah pemahaman dari pengguna ajaran kanda pat serta adanya legalitas (pegugran) dari bhatara-bhatari pengayom ajaran ini.
salah satu perguruan yang mengembangkan ajaran kanda pat adalah Perguruan Seruling Dewata. 

sebenarnya banyak versi ajaran kanda pat lainnya yang beredar seperti yang telah diunggah dalam artikel-artikel sebelumnya, tetapi untuk saat ini, kami menjoba memberikan sedikit gambaran singkat ajaran Kanda Pat Versi Perguruan Seruling Dewata saja.

Lontar Purwa Bhumi Kamulan

Lontar Purwa Bhumi Kamulan

Purwa Bhumi Kamulan termasuk kelompok lontar Tattwa.

Lontar ini berisi ajaran tentang penciptaan dunia yang diuraikan secara mitologis. Seluruh ajarannya bersifat Siwaistik. Pokok-pokok ajarannya sebagai berikut :
Bhatara Bhatari adalah dua sumber kekuatan yang mula-mula ada. Dari kekuatan yoga Bhatari terciptalah Dewata, Panca Resi, dan Sapta Resisebagai isinya dunia.
Pada tahap berikutnya barulah diciptakan dunia. Gangga tercipta dari cucuran keringat. Samudra tercipta dari garam yang keluar dari badan. Prathiwi tercipta dari garam yang keluar dari badan. Selanjutnya Sanghyang Dharma menciptakan"Mahapadma", Matahari, Bulan, Panca mahabutha dan Catur Pramana.
Setelah itu, Bhatari Uma merubah wujudnya sebagai Durga. Bulu-bulu badannya diciptakan sebagai Kala sumber kejahatan didunia. Dengan kekuatan yoganya, Durga menciptakan semua isi samudra (ikan dsb.nya).
Bhatari Guru kemudian turun ke bumi sebagai Bhatara Kala karena tertarik oleh kekuatan pandang Bhatari Durga. Dan dengan kekuatan yoganya Bhatara Kala menciptakan Kala. Manusia adalah santapan Bhatara Kala. Manusia yang disantap adalah :
  • Orang yang lahir pada wuku carik (wuku wayang).
  • Kadana-Kadani (kembar siam)
  • Bersaudara Limao Tunggak Wareng (tus tunggal)
  • Unting-unting (?)
  • Uduh-uduh rare bajang (?)
Selanjutnya Bhatara Kala turun ke dunia membuat tempat pemujaan. Begitupula Brahma, Wisnu dan Iswara diperintahkan turun ke dunia. Brahmasebagai Brahmana. Wisnu sebagai Bhujangga. Iswara sebagai Resi.
Brahmana, Bhujangga dan Resi diberi tugas oleh Bhatara Kala menghaturkan sesaji kepada dirinya dan Bhatari Durga dan meruwat sepuluh jenis kekotoran (manusia).
Itulah permulaan manusia memuja Tuhan. Bhatara Kala dan Bhatari Durga tidak lagi menyantap manusia. Rupanya yang mengerikan kembali seperti semula sebagai Guru dan Uma, kembali ke Siwapada.

Tehnik Dasar Belajar Tenaga Dalam

Tehnik Dasar Belajar Tenaga Dalam

Mau belajar tenaga dalam ? Boleh saja.
Artikel ini akan membahas tiga cara mendapatkan tenaga dalam.

Teknik latihan Tenaga Dalam pada dasarnya adalah suatu sistem yang dikenal ilmiah sebagai hipoksik anerobik sistemik, yaitu secara sederhana adalah teknik pengaturan pernafasan untuk merangsang seluruh sel-sel tubuh agar meningkatkan kualitas metabolisme/pembentukan energi dan memaksimalkan pembentukan ATP (adhenosine thriposhpate), serta memaksimalkan kinerja sel secara keseluruhan. Karena itu seandainya dalam latihan awal-awal merasa pusing itu wajar. Saya sarankan untuk memperbanyak nafas perut terlebih dahulu dalam kondisi-kondisi demikian.

Untuk latihan jangan pernah dilakukan dalam kondisi langsung setelah makan (perut penuh). 
Yang ideal dilakukan +/- 1.5 jam setelah makan. Kenapa? 
Balik lagi ke penjelasan diatas, teknik pernafasan ini memaksimalkan metabolisme tubuh untuk pembentukan ATP, sementara dalam kondisi setelah makan, metabolisme tubuh sedang aktif-aktifnya untuk mencerna makanan. Dikhawatirkan terjadi overloaded beban kinerja metabolisme yang malah berakibat buruk bagi kesehatan. Akan tetapi setelah latihan langsung makan sah-sah saja - asal istirahat terlebih dahulu barang 5 menit.

Tutur Catur Siwa Samapta

TUTUR CATUR SIWA SAMAPTA

PATITIS SWADHARMA AGURON-GURON
PIRANTI NGAWERDIANG MANUSA SANE SUJANA

Ring aab jagat sekadi mangkin sane ketah kabawos Kali Yuga utawi Kali Sengara kawentenan jagat druwe, gumanti sampun nyihnayang sipta sane rahat muatang uratian saking para janane. Sipta sane metu pinaka caciren jagat kali sangarane punika prasida kacingak ring makudang-kudang pikobet sane nibenin kauripan imanusa ring jagate. Minakadi akeh para janane maparilaksana lempas ring uger-uger satra agama,sekadi memaling, mamarikosa, miwah marebat pantaraning banjar mawiwilan antuk tapal batas utami wates desa miwah wicara sane tiosan. Indike punika ring ajeng sampun sepatutnyane polih uratian, mangdane prasida ngerereh pemargi anggen nepasin kawentenan jagate. Antuk punika guru wisesa utawi pemerintah sampun ngelimbakang makudang-kudang pemargi nganinin nepasin pikobet sane pinih utama. Pemargi punika sampun kemargiang majalaran antuk ngawentenan bebawosan sareng instansi sane mapaiketan nganenin wicara punika, inggian ngemargiang paiketan sareng Kementrian Agama Republik Indonesia, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Para Pandita, lan Panglingsir Adat, miwah sane lianan.

Persepsi Masyarakat Bali tentang Ilmu Leak

Persepsi Masyarakat Bali tentang Ilmu Leak

Benarkah Ilmu Leak di Bali itu Ilmu Hitam (Black Magic)?

rerajahan ilmu leak bali
salah satu contoh rerajahan leak bali
Agama Hindu merupakan agama yang bersumber dari Weda dan merupakan agama yang membawa pengaruh besar bagi kebudayaan masyarakat indonesia pada umumnya dan khususnya di Bali. Agama hindu juga merupakan agama wahyu yang diterima oleh maharsi berdasarkan pengalaman spritual, dalam kitab-kitab (upanisad) pengalaman – pengalaman ini bersifat langsung dan sempurna. Kekuatan spiritual maharsi mampu mendengarkan suara alam yang diwahyukan Tuhan dan dipercaya oleh umat manusia sebagai seebuah ajaran agama yaitu agama Hindu (Shivananda, 2003:2)

Kekuatan spritual yang diterima oleh maharsi merupakan warisan kepada seluruh umat manusia untuk mencapai kebebasan. Dalam kitab suci Weda terdiri dari empat macam bagian yang ditulis dalam bahasa sansekerta kuno, bahasa suci india dan Weda merupakan otoritas religi yang tertinggi bagi hampir seluruh tradisi hinduisme. Masing-masing bagian Weda memiliki beberapa periode berbeda kemungkinan antara tahun 1500 dan 500 SM. Bagian tertua dari Weda adalah Reg Weda yang berisikan kidung pujian dan doa-doa suci dilanjutkan dengan ritual-ritual pengorbanan yang berkenaan dengan kidung pujian vedik dan terakhir adalah kitab-kitab upanisad. Kitab upanisad berisikan mengenai intisari pesan spritual hinduisme, filosofis dan praktisnya (Capra, 2000:80).